√ 11 Cara Pemberian Obat kepada Pasien

Cara Pemberian Obat – rute pemberian obat menjadi salah satu faktor pendukung penting dalam keberhasilan sebuah terapi pengobatan pada pasien. Pengobatan pasien harus memenuhi 4 faktor penting yaitu tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien, tepat khasiat. Apabila seorang Apoteker dalam melakukan terapi pengobatan sudah mengacu pada keempat faktor tersebut maka InsyaAllah pengobatan kepada pasien sudah sesuai dengan prosedur pengobatan yang benar. Selain faktor tersebut ada faktor pendukung lain yang mempengaruhi hasil terapi pengobatan misalnya kepatuhan pasien, jika pasien patuh meminum obat sesuai dengan instruksi yang diberikan maka terapi pengobatan bisa memperoleh hasil yang maksimal.
Cara Pemberian Obat kepada Pasien
Cara Pemberian Obat kepada Pasien
Hasil terapi pengobatan yang maksimal juga bisa karena faktor pemilihan cara pemberian obat kepada pasien. Pemilihan cara pemberian obat sangat menentukan cepat lambat dan lengkap atau tidaknya absorpsi suatu obat dalam tubuh, tergantung dari efek yang diinginkan, yaitu efek sistemis (di seluruh tubuh) atau efek lokal (setempat), keadaan pasien, sifat-sifat fisika kimia obat dan rute pemberian obat seperti : enteral (oral, sublingual, rektal), parenteral (intravaskular, intramuscular, subcutan) dan lain-lain (inhalasi, intranasal, intratekal, topikal dan transdermal). Berikut di bawah ini penjelasan lengkap mengenai berbagai macam cara pemberian obat kepada pasien
Cara Pemberian Obat dengan Efek Sistemis
1. Oral
cara pemberian obat secara oral
cara pemberian obat secara oral

Cara pemberiaan obat melalui mulut

Keuntungan cara pemberian obat secara oral :
– Ekonomis, aman, nyaman, lazim, mudah dan praktis pemakaiannya.
– Digunakan untuk mencapai efek lokal dalam usus misalnya untuk obat cacing dan obat diagnostik untuk pemotretan lambung – usus.
– Digunakan untuk sterilisasi lambung – usus pada injeksi atau sebelum operasi menggunakan antibiotika.
Kerugian cara pemberian obat secara oral :
– Efeknya lambat
– Tidak bermanfaat untuk pasien tidak sadarkan diri atau koma, tidak kooperatif pada pasien yang mengalami mual muntah, diare, maupun gangguan menelan.
– Tidak dapat digunakan untuk obat di bawah ini :
# Membutuhkan onset cepat
# Mempunyai rasa tidak enak yang tidak dapat ditutupi
# Mempunyai sifat merangsang lambung (emetin, aminofilin)
# Terurai oleh getah lambung (benzil penisilin, insulin, dan oksitosin)
# Mengiritasi dinding lambung
# Menyebabkan muntah ( garam besi dan salisilat )
– dapat terjadi inaktivasi oleh hati sebelum diedarkan ke tempat kerjanya.
2. Oromukosal / Sublingual
cara pemberian obat secara sublingual
cara pemberian obat secara sublingual

Cara pemberian obat diletakkan di bawah lidah

Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misalnya pada kasus pasien jantung, terjadi absorpsi oleh selaput lendir ke vena-vena lidah yang sangat banyak, langsung masuk ke peredaran darah. Contoh : bentuk tablet kecil seperti Isosorbid tablet.
Keuntungan cara pemberian obat secara sublingual :
– Obat langsung masuk ke peredaran darah tanpa melalui hati (tidak di inaktifkan)
– Efek yang diinginkan tercapai lebih cepat
– Efektif untuk serangan jantung dan asma
– Kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)
Kerugian cara pemberian obat secara sublingual :
– Kurang praktis untuk digunakan terus menerus karena dapat merangsang selaput lendir mulut
3. Injeksi
cara pemberian obat secara injeksi
cara pemberian obat secara injeksi

Injeksi adalah semua bentuk obat yang digunakan secara parenteral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dan cair, maka dibuat dalam bentuk kering dan bila hendak digunakan ditambahkan aqua steril (aqua pro injectione).

Keuntungan cara pemberian obat secara injeksi :
– Efekobat lebih cepat
– Digunakan untuk obat – obat yang merangsang, mengiritasi atau dirusak oleh asam lambung
– Dapat diberikan pada pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, sulit menelan, dan pasien tidak mau bekerja sama.
– Bekerja cepat dan dosis ekonomis
– Dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna.
Kerugian cara pemberian obat secara injeksi :
– Harga relatif mahal
– Tidak begitu disukai pasien karena menimbulkan rasa sakit
– Sulit digunakan mandiri karena memerlukan tenaga medis
– Kurang aman dan ada bahaya infeksi
– Dapat merusak pembuluh darah dan saraf
4. Implantasi
cara pemberian obat secara implantasi
cara pemberian obat secara implantasi

Obat dalam bentuk pelet steril dimasukkan di bawah kulit dengan alat khusus (trocar). Terutama digunakan untuk efek sistemik lama, misal obat – obat kontrasepsi yang mengandung hormon kelamin (estradiol dan testosteron). Akibat resorpsi yang lama, satu pellet dapat melepaskan zat aktifnya secara teratur selama 3 sampai 5 bulan.

5. Rektal
cara pemberian obat secara rektal
cara pemberian obat secara rektal

Obat diberikan rektal atau dubur, ditujukan untuk efek sistemik maupun lokal, berbentuk enema atau suppositoria. Enema adalah bila sejumlah besar obat dalam bentuk cairan diberikan secara rektal. Suppositoria adalah apabila obat berbentuk kapsul setengah padat yang panjang dan besar dimasukkan ke dalam rektal.

Pemasukkan bentuk sediaan ini harus dalam keadaan berbaring ke kiri dan setelah masuk pasien harus diam dalam keadaan terlentang selama kira-kira 30 menit untuk mencegah peristaltik yang dapat menyebabkan obat keluar kembali. Penyimpanan obat dalam bentuk suppositoria harus di lemari es suhu 2 – 8 derajat Celcius karena dapat meleleh dalam suhu kamar.
Keuntungan cara pemberian obat secara rektal :
– Memiliki efek sistemik lebih cepat dan lebih besar dibandingkan peroral.
– Digunakan untuk pasien yang mudah muntah dan mengalami kesulitan menelan
– Digunakan untuk obat yang dapat mengiritasi saluran pencernaan
– Beberapa obat tertentu dapat diabsorpsi dengan baik melalui dinding permukaan rektum.
– Digunakan untuk obat yang mudah dirusak oleh asam lambung, misalnya obat anti radang
Kerugian cara pemberian obat secara rektal :
– Absorbsi obat kadangkala tidak teratur dan tidak sempurna
– Beberapa obat dapat mengiritasi dinding rektum
6. Transdermal
cara pemberian obat secara transdermal
cara pemberian obat secara transdermal

Cara pemakaian melalui permukaan kulit berupa plester, obat menyerap secara perlahan dan kontinyu masuk ke dalam sistem peredaran darah, langsung ke jantung. Umumnya untuk gangguan jantung, misalnya angina pectoris tiap dosis dapat bertahan 24 jam, contohnya Nitrodisk dan Nitroderm TTS ( Therapeutik Transdermal System ) dan preparat hormon.

Cara Pemberian Obat dengan Efek Lokal (Setempat)
7. Kulit (Percutan)
cara pemberian obat topikal di kulit
cara pemberian obat topikal di kulit

Obat diberikan dengan cara digosokkan, ditepukkan, disemprotkan dan dioleskan pada permukaan kulit. Obat dapat berbentuk salep, krim, dan lotio. Dalam praktek klinik, pemberian obat pada kulit dilakukan bila dibutuhkan efek lokal, misalnya pemberian topikal obat-obatan steroid.

8. Inhalasi
cara pemberian obat secara inhalasi
cara pemberian obat secara inhalasi

Penggunaannya dengan cara disemprotkan melalui hidung atau mulut dan penyerapannya terjadi di selaput mulut, tenggorokan dan pernafasan. Obat berbentuk gas dan uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan. Misalnya obat bronkodilator pada penderita asma berbentuk gas, zat padat atau aerosol.

Keuntungan cara pemberian obat secara inhalasi :
– Absoprsi cepat dan homogen
– Terhindar dari efek lintas pertama
– Dapat diberikan langsung pada bronkus
Kerugian cara pemberian obat secara inhalasi :
– Memerlukan alat dan metode yang khusus
– Sukar untuk mengantur dosis
– Sering mengiritasi epitel paru-sekresi saluran nafas
– Bersifat toksisitas pada jantung
9. Mukosa Mata, Hidung dan Telinga
cara pemberian obat secara tetes
cara pemberian obat secara tetes

– Obat diberikan melalui selaput / mukosa mata, hidung atau telinga. Pada obat tetes mata dapat berbentuk tets atau salep, karena sifat selaput lendir dan jaringan mata lunak dan responsif terhadap obat maka kadar obat tidak boleh lebih dari 2 %.

– Penggunaan obat tetes hidung untuk mendapatkan efek adstringen yaitu mengerutkan selaput lendir hidung yang bengkak dan menyembuhkan infeksi pada rongga atau sinus hidung.
– Penggunaan obat tetes telinga untuk mengatasi radang rongga telinga dan membersihkan kotoran pada telinga.
– Pemberian pasien dewasa, obat diteteskan dengan cara menarik daun telinga ke atas belakang, sedangkan pasien masih bayi maka daun telinga ditarik ke bawah.
10. Intravaginal
cara pemberian obat secara intravaginal
cara pemberian obat secara intravaginal

Obat diberikan melalui selaput lendir atau mukosa vagina, bertujuan untuk mengobati infeksi atau menghilangkan rasa nyeri dan gatal pada vagina, seperti obat antifungi dan pencegah kehamilan. Dapat berbentuk ovula, salep, krim dan cairan bilas.

11. Intranasal
cara pemberian obat secara intranasal
cara pemberian obat secara intranasal

Obat diberikan melalui selaput lendir hidung untuk menciutkan selaput atau mukosa hidung yang membengkak, misalnya Otrivin.

Baca juga : “ Regulasi Obat di Indonesia
Demikian penjelasan lengkap tentang berbagai cara pemberian obat kepada pasien. Apabila ada pertanyaan, kritik dan saran seputar ulasan diatas maka silahkan tinggalkan di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih sudah menyempatkan membaca semoga ulasan diatas dapat menambah wawasan anda mengenai cara pemberian obat kepada pasien lengkap. Jangan lupa bagikan dan nantikan artikel bermanfaat selanjutnya hanya di inFarmasi.com.