√ 13 Aturan Baku dalam Penulisan Resep Obat

Aturan menulis resep obat – Resep adalah permintaan obat tertulis dari dokter kepada apoteker sebagai perintah untuk mengerjakan obat. Resep berdasarkan undang-undang hanya boleh ditulis oleh seorang dokter termasuk di dalamnya dokter gigi dan dokter hewan. Jadi jika ada resep yang ditulis oleh selain dokter maka resep tersebut adalah resep ilegal dan tidak boleh dikerjakan. Pemalsuan resep obat akhir-akhir ini semakin karena  ada beberapa oknum yang ingin menyalahgunakan obat, maka dari itu seorang Apoteker harus benar-benar teliti dan waspada terhadap resep obat yang masuk ke apotek. Sebaiknya seorang Apoteker harus paham tentang bagian-bagian resep dan salinan resep seperti pada postingan sebelumnnya, jika paham mengenai bagian resep maka dapat dicek satu persatu apakah ada yang mencurigakan sehingga ketahuan jika ada oknum yang menebus obat dengan resep palsu.
Aturan Baku dalam Penulisan Resep Obat
Aturan Baku dalam Penulisan Resep Obat
Pengecekan resep meliputi 3 kelengkapan resep yaitu kelengkapan resep secara administratif, klinis dan efek farmakologi.  Nah dari ketiga cek kelengkapan resep tersebut cek yang paling mudah mendeteksi bahwa resep obat tersebut resep asli atau resep palsu adalah cek kelengkapan administratif. Cek kelengkapan administratif resep meliputi cek nama dokter, nomor ijin praktek, alamat, tanggal, paraf dan stempel dokter. Berdasarkan fakta jika resep obat banyak disalahgunakan maka seorang dokter diberikan aturan dalam menulis resep.  Seorang Dokter harus mengikuti aturan baku dalam penulisan resep untuk mencegah pemalsuan resep obat. Berikut di bawah ini aturan baku penulisan resep yang harus diperhatikan oleh dokter saat menulis resep :

 

1. Resep obat harus ditulis menggunakan bahasa latin (karena bahasa latin tidak mengalami banyak perubahan kata).
2. Resep-resep yang mengandung bahan narkotika dan psikotropika harus ditulis tersendiri, tidak boleh ada pengulangan (Iterasi), harus ada alamat pasien lengkap, dan memiliki aturan pakai obat yang jelas.
3. Untuk pasien kondisi khusus yang harus segera memerlukan obat seperti pasien gawat darurat maka pada kanan atas resep ditulis urgent, cito, p.i.m (periculum in mora = bahaya bila ditunda).
4. Jika Dokter tidak ingin resepnya diulang atau dibuat salinan resep tanpa sepengetahuannya, maka harus dituliskan tanda n.i (ne iteratur = tidak boleh diulang).
5. Jika pada resep dituliskan dokter tulisan p.p kepanjangannya pro pauper artinya resep untuk orang tidak mampu.
Urutan penyusunan obat dalam resep (aturan ini berlaku untuk resep racikan)
6. Pertama obat utama/pokok (Remerium cardinale).
7. Kedua bahan tambahan (Remedium adjuvantia).
Remedium corringens actionis yaitu obat yang memperbaiki atau menambah efek obat pokok.
Remedium corrigens saporis yang berfungsi untuk memperbaiki rasa pada obat.
Remedium corrigens odoris yang berfungsi untuk memperbaiki bau pada obat.
Remedium corrigens coloris yang berfungsi untuk memperbaiki rasa pada obat.
8. Ketiga bahan tambahan untuk memperbesar volume disebut Remedium constituens.
9. Penyerahan obat atas resep wajib dilengkapi dengan aturan pakai, jika tidak ada resep dikembalikan ke dokter.
10. Pemberian etiket harus sesuai:
– Etiket warna putih untuk pemakaian obat secara oral atau lewat mulut misalnya obat yang diminum, ditelan, dikunyah atau digerus.
– Etiket warna biru untuk pemakaian obat luar / topical misalnya dioles, ditabur, disemprot, ditetes dan ditempel
11. Pemberian keterangan label KOCOK DAHULUsebelum digunakan untuk obat sediaan suspensi.
12. Untuk golongan obat bebas diberikan dengan sesuai dengan aturan pakainya.
13. Untuk obat bebas terbatas yang berasal dari industri farmasi karena termasuk golongan obat keras yang boleh ditebus tanpa resep dokter, maka diberikan tambahan aturan pemakaian obat pada kemasannya. Pada kemasan obat bebas terbatas terdapat 6 aturan pemberian obat yaitu P1 sampai P6
  P.No.1 Awas! Obat Keras, Bacalah Aturan Pemakaiannya
– P.No.2 Awas! Obat Keras, Hanya untuk kumur, jangan ditelan
– P.No.3 Awas! Obat Keras, Hanya untuk bagian luar dari badan
– P.No.4 Awas! Obat Keras, Hanya untuk dibakar
– P.No.5 Awas! Obat Keras, Tidak boleh ditelan
– P.No.6 Awas! Obat Keras, Obat wasir, jangan ditelan

Itulah beberapa aturan baku dalam penulisan resepyang harus benar-benar diperhatikan oleh seorang dokter sebelum menulis resep. Selain itu apoteker juga harus memahami mengenai aturan penulisan resep tersebut untuk melakukan cek kelengkapan resep saat menerima resep dari dokter. Mungkin penjelasan diatas dapat menambah wawasan anda mengenai tata cara penulisan resep yang benar, jangan lupa bagikan ke teman-teman anda agar lebih bermanfaat. Terima kasih sudah mampir di blog inFarmasi.com, tunggu artikel-artikel bermanfaat selanjutnya.