√ 11 Penyimpanan Obat yang Baik di Rumah Sakit, Puskesmas dan Apotik

Cara penyimpanan obat yang baik – penyimpanan obat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh kegiatan kefarmasian, baik farmasi rumah sakit maupun farmasi komunitas seperti klinik, puskesmas dan apotik. Definisi penyimpanan obat yaitu suatu kegiatan kefarmasian seperti menyimpan dan memelihara dengan cara menempatkan obat yang diterima pada tempat yang dinilai aman dari pencurian serta dapat menjaga mutu obat. Sistem penyimpanan obat yang tepat dan baik akan menjadi salah satu faktor penentu mutu obat yang didistribusikan. Terdapat beberapa tujuan dilakukan kegiatan penyimpanan obat, antara lain adalah memelihara mutu obat, menghindari penggunaan obat yang tidak bertanggungjawab, menjaga ketersediaan stok obat serta mempermudah untuk pencarian dan pengawasan obat. Untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, maka harus ada sistem penyimpanan obat yang baik sesuai dengan standar prosedur yang sudah ditetapkan pemerintah. 
Penyimpanan obat yang baik
Penyimpanan obat yang baik
Sistem penyimpanan obat yang baik dan benar dapat dilakukan berdasarkan beberapa kategori, seperti berdasarkan jenis obat dan bentuk sediaan obat, suhu penyimpanan dan stabilitas, sifat bahan obat, susunan alfabetis, dengan menerapkan prinsip FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) untuk mencegah tersimpannya obat yang sudah kadaluwarsa. Penyimpanan berdasarkan jenis sediaan obat adalah mengelompokkan obat sesuai jenisnya dan menempatkan pada area terpisah. Obat dikelompokkan berdasarkan bentuk sediaan obat, misalnya dikelompokkan menjadi obat oral (tablet, kapsul, sirup), obat suntik (ampul, vial, cairan infus), obat luar (salep, gel, tetes mata, obat kumur). Penyimpanan obat di tiap kategori dapat disusun berdasarkan abjad atau berdasarkan efek farmakologinya. Penyusunan obat berdasarkan abjad akan lebih memudahkan pencarian obat, sedangkan penyusunan obat berdasarkan efek farmakologidapat mencegah akibat fatal yang disebabkan salah ambil obat. 
Pengelompokan obat berdasarkan efek farmakologi obatdapat dipisahkan dengan memberi warna wadah penyimpanan atau ditempel stiker berwarna yang berbeda untuk tiap kelompok efek farmakologinya. Kelemahan penyusunan obat berdasarkan efek farmakologi adalah akan menyulitkan pencarian obat dengan cepat, terutama jika petugasnya baru dan belum mengenal dengan baik klasifikasi obat berdasarkan efek farmakologi. Sebagai solusinya penyusunan obat berdasarkan abjad dapat dipilih, namun perlu diperhatikan penyimpanan untuk obat yang nama dan rupa mirip atau disebut LASA (Look Alike Sound Alike). Untuk obat LASA perlu diberikan penandaan khusus (misalnya dengan stiker berlogo “LASA” pada wadah obat, dan penyimpanan obat LASA tidak diletakkan berdampingan , hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan salah ambil akibat kemiripan tampilan obat.
Obat yang memerlukan kewaspadaan tinggi (High Alert Medication) harus disimpan di temapt terpisah, akses terbatas, dan diberi tanda khusus (misalnya area penyimpanannya ditandai dengan selotip berwarna merah atau diberi etiket “High Alert“. Obat antikanker (sitostatika)harus disimpan terpisah dari obat lainn dan diberi tanda stiker khusus “obat kanker, tangani dengan hati-hati”. Selain penyimpanan berdasarkan jenis dan bentuk sediaan obat, penyimpanan obat juga perlu memperhatikan suhu penyimpanan untuk menjaga stabilitas obat. Suhu penyimpanan obat dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu :
a. Penyimpanan suhu beku (- 20° dan – 10° C), yang umumnya digunakan untuk menyimpan vaksin,
b. Penyimpanan suhu dingin (2° – 8° C),
c. Penyimpanan suhu sejuk (8° – 15° C), dan
d. Penyimpanan suhu kamar (15° – 30° C).
Pengelompokan obat berdasarkan kestabilan suhu ruangini harus disesuaikan dengan instruksi penyimpanan yang tertera di kemasan obat. Untuk obat yang stabilitasnya dipengaruhi oleh cahaya, maka harus disimpan di tempat yang terlindung dari cahaya matahari langsung. Obat yang bersifat higroskopis harus disimpan dengan menggunakan absorben/ desiccator. Penyimpanan berdasarkan sifat bahan misalnya dilakukan pada Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). B3 harus disimpan di area terpisah dan diberi simbol sesuai dengan klasifikasinya. Terdapat beberapa klasifikasi B3yaitu diantaranya adalah :
a. mudah meledak,
b. bersifat pengoksidasi,
c. mudah terbakar,
d. beracun,
e. bersifat iritasi,
f. bersifat korosif,
g. merusak lingkungan, dan lain-lain.
h. Area penyimpanan B3 pun harus di fasilitasi dengan alat pengaman yang dapat meminimalisasi kerusakan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Obat Narkotika adalah obat yang memerlukan penyimpanan khusus menggunakan lemari khusus narkotika sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan obat narkotika. Berdasarkan PERMENKES RI No. 28/ MENKES/ PER/ I/ 1978 tentang tata cara penyimpanan narkotika, yaitu pada pasal 5 dan pasal 6, disebutkan bahwa persyaratan tempat penyimpanan obat narkotika adalah sebagai berikut :
1. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat.
2. Harus mempunyai kunci yang kuat.
3. Lemari dibagi dua masing-masing dengan kunci yang berlainan, bagian pertama dipergunakan untuk menyimpan morfin, petidin dan garam-garamnya, serta persediaan narkotika. Sedangkan bagian kedua dipergunakan untuk menyimpan narkotika lainnya yang dipakai sehari-hari.
4. Apabila tempat khusus tersebut berupa lemari ukuran kurang dari 40 x 80 x 100 cm, maka lemari tersebut harus dibaut pada tembok atau lantai.
5. Lemari khusus tidak diperbolehkan digunakan untuk menyimpan barang lain selain narkotika.
6. Anak kunci lemari khusus harus dikuasai oleh penanggung jawab/ asisten apoteker atau pegawai lain yang dikuasakan.
7. Lemari khusus harus ditaruh pada tempat yang aman dan tidak boleh terlihat oleh umum.

Tips Penyimpanan Obat yang Baik di Rumah

Penyimpanan Obat yang Baik
Penyimpanan Obat yang Baik di Rumah

Penerapan teknik FEFO dalam penyimpanan obat dan penanganan untuk penyerahan dilakukan dengan cara :

8. Obat disusun dengan urutan batas tanggal kadaluarsa. Obat dengan batas kadaluarsa (Expiration Date) yang lebih dekat ditempatkan pada bagian depan tempat penyimpanan, sedangkan obat dengan batas kadaluarsa sesudahnya ditempatkan di belakangnya.
9. Penambahan obat yang baru masuk, ditempatkan pada atau dimasukkan melalui bagian belakang tempat/ rak penyimpanan atau sisi penempatan/ penyimpanan. Kecuali jika terpaksa menerima obat dengan batas kadaluarsa lebih dekat, maka ditempatkan pada bagian depan.
10. Obat yang akan dipakai terlebih dahulu adalah obat yang berada pada bagian depan, atau pada sisi pengambilan.
11. Kartu Stok dibuat untuk setiap nomor bets obat
Itulah tadi penjabaran lengkap tentang syarat penyimpanan obat yang baik di rumah sakit, klinik, puskesmas dan apotik yang perlu anda ketahui. Semoga ulasan tentang bagaimana penyimpanan obat yang baik dan aman dalam kefarmasian diatas bermanfaat dan menambah wawasan anda.