√ ANALGETIKA : 8 Kategori NYERI dan Obat Golongan ANALGETIKA

Obat nyeri analgetika anti inflamasi – istilah analgetik atau antiinflamasi pasti masih asing bagi orang awam. Apa itu analgetika? Apa itu antiinflamasi? Sebenarnya kita sering menyebutnya namun dengan istilah lain yang lebih umum yaitu nyeri. Jika dalam bahasa medis menyebut dengan istilah obat analgetika maka dapat diartikan sebagai obat penghilang rasa nyeri. Sedangkan antiinflamasi dapat diartikan sebagai obat anti peradangan. Karena pasti pada bagian tubuh yang terluka akan menimbulkan rasa nyeri akibat terjadinya peradangan. Nyeri adalah perasaan tidak menyenangkan yang dirasakan oleh penderita sehingga keluhan tersebut merupakan tanda dan gejala yang tidak terlalu sulit dikenali secara klinis namun penyebabnya bervariasi. Rasa nyeri sendiri dapat dibedakan dalam 5 kategori berdasarkan intensitas keparahannya.
Obat nyeri analgetika anti inflamasi
kategori nyeri

 Kategori Nyeri Berdasarkan Tingkat Keparahan

1. Nyeri akut, nyeri dadakan dapat dibagi menjadi 3 kategori :
2. Nyeri ringan, contohnya sakit gigi, sakit kepala, nyeri otot, nyeri haid, dll.
3. Nyeri sedang, contohnya sakit punggung, migrain dan rheumatik.
4. Nyeri hebat, contohnya kolik/ kejang usus, kolik batu empedu, kolik batu ginjal, kanker.
5. Nyeri kronik, nyeri menetap lebih dari 6 bulan.
6. Nyeri superfisial, nyeri di daerha permukaan seperti kulit dan selaput mukosa.
7. Nyeri somatik, nyeri pada tulang, otot rangka dan sendi.
8. Nyeri viseral, atau nyeri dalam, terjadi pada nyeri otot polos dan organ dalam.
Analgetika atau obat penghilang nyeri merupakan zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Semua jenis analgeti digunakan untuk meredakan nyeri dan pilihannya tergantung dari berat ringannya nyeri. Nyeri yang ringan sampai sedang dari otot rangka dan sendi diredakan dengan pemakaian analgetik non narkotik, sedangkan nyeri sedang sampai berat pada otot polos dan organ dalam serta tulang diredakan dengan analgetik narkotik.
Ada 3 kelas analgetik tanpa resep yang saat ini tersedia bebas di pasaran ,yaitu :
a. Golongan Paraaminofenol, contohnya Parasetamol
b. Golongan Salisilat, meliputi asam asetil salisilat/ asetosal, natrium salisilat, magnesium salisilat dan cholin salisilat.
c. Golongan turunan asam propionat seperti Ibuprofenn, Naproxen dan Ketoprofen.
Obat golongan analgetika sendiri dibagi menjadi 2 golongan besar yaitu :
B. Analgesik Non Narkotik (Analgesik Perifer)
Golongan ini dipakai untuk mengobati nyeri ringan sampai sedang dan dapat dibeli bebas. Mekanisme kerjanya pada sistem saraf tepi di tempat reseptor nyeri dan kebanyakan bekerja menurunkan suhu tubuh yang meningkat, sehingga disebut juga memiliki efek antipiretik. Beberapa analgetik juga memiliki efek anti inflamasi atau anti radang dan efek anti koagulan atau anti platelet.
Kekuatan efek analgesik, antipiretik dan anti radang setiap obat berbeda-beda, ada yang antiradangnya lebih kuat dari analgesik dan antipiretiknya, sehingga obat tersebut hanya digunakan sebagai antiradang atau antirematik, misalnya Fenilbutazon. Ada juga yang efek antiradangnya snagat lemah tetapi efek analgesik dna antipiretiknya kuat, misalnya Asetaminofen/ Parasetamol.
Obat-obat analgesik yang memiliki efek antiinflamasi sebenarnya memiliki efek analgesik dan antipiretik juga, tetapi efek ini baru dapat terlihat nyata pada dosis yang lebih besar, sehingga bersifat toksik. Oleh karena itu hanya digunakan efek antiinflamasinya saja yaitu untuk terapi penyakit inflamasi sendi, seperti rhematoid artritis, osteoarthritis dna penyakit pirai / GOUT. Obat golongan ini disebut obat Anti Inflamasi Non Steroid atau AINS. Analgetika perifer dibagi menjadi 3 golongan berdasarkan rumus kimianya, yaitu :
1. Golongan Para Aminofenol
Asetaminofen lebih dikenal sebagai Parasetamol, adalah obat tanpa resep Dokter yang populer dipakai bayi, anak-anak, dewasa dan lanjut usia. Merupakan analgetik yang aman dan efektif untuk mengurangi pegal dan nyeri otot serta demam akibat imunisasi maupun infeksi virus. Parasetamol tidak memiliki daya antiinflamasi dan penggunaan jangka panjang pada dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan hati.
2. Golongan Karboksilat
Obat golongan karboksilat dibagi menjadi 5 golongan , yaitu :
– Golongan Asam Salisilat
Asam asetil salisilat atau lebih dikenal sebagai asetosal, diindikasikan untuk sakit kepala, nyeri otot, demam, dll. Saat ini asetosal lebih banyak dipakai sebagai antiplatelet yaitu dalam dosis kecil dapat mencegah trombosis koroner dan cerebral. Asetosal adalah analgesik antipiretik dan anti inflamasi yang penggunaannya sangat luas dan termasuk dalam golongan obat bebas. Memiliki efek samping iritasi lambung dan saluran cerna, dapat dikurangi dengan cara meminum obat setelah makan atau bersama makanan dan dibuat sediaan salut enterik. Penggunaan jagka panjang menyebabkan hepatotoksik sehingga tidak dianjurkan untuk penderita hati yang kronis dan tinitus, yaitu telinga berdenging.
– Golongan Asam Antranilat
Asam Mefenamat diindikasikan untuk analgetika karena efek anti inflamasinya kurang efektif dibanding asetosal sehingga hanya digunakan sebagai anti nyeri ringan sampai sedang. Efek sampingnya terhadap saluran cerna berupa dispepsia dan gejala iritasi lambung serta reaksi hipersensitivitas seperti eritema kulit dan bronkokontriksi.
– Golongan Fenil Asetat
Diklofenak memiliki efek anti radang yang terkuat dengan efek samping lebih lemah dibanding obat lainnya seperti piroksikam dan indometasn. Digunakan untuk segala macam nyeri, migrain dan encok. Ada dua sediaan yaitu garam kalium dan natrium, dimana garam kalium lebih cepat absorpsinya dibanding garam natrium sehingga kurang mengiritasi lambung.
– Golongan Asam Asetat
Indometasin memiliki daya analgetik dan anti radang dapat disamarkan dengan diklofenak, digunakan pada serangan rheumatik akut. Tetapi penggunaannya terbatas karena toksisitasnya tinggi. Efek samping berupa gangguan saluran cerna, perdarahan tersembunyi (okult), gangguan SSP (pusing, tremor), alergi dan agranulositosis.
– Golongan Asam Propionat
Yang termasuk dalam golongan ini adalah Ibuprofen, Ketoprofen dan Naproksen. Memiliki khasiat analgetik, antipiretik dan antiinflamasi yang tidak terlalu kuat sehingga kurang sesuai untuk peradangan sendi hebat, seperti GOUT akut. Efek sampingnya kecil dibanding AINS yang lain.
3. Golongan Asam Enolat
Golongan Asam Enolat, dibagi menjadi 3 golongan, yaitu :
– Golongan Pirazolon
Yang masih digunakan dalam golongan ini adalah Fenilbutazon dan Metampiron. Fenilbutazon dan turunannya memiliki khasiat antiradang yang lebih kuat dibanding analgetiknya sehingga dipakai untuk mengobati rematoid artritis dan sejenisnya. Penyalahgunaan dalam obat penguat dan tonikum (dengan gingseng) adalah snagat berbahaya karena dapat merusak sel-sel darah. Sedangkan metampiron atau antalgin untuk analgesik antipiretik, karena efek antiinflamasinya lemah.
Efek samping semua derivat Pirazolon dapat menyebabkan agranulositosis, anemia aplastik dan trombositopenia, sehingga dibeberapa negara penggunaannya sangat dibatasi bahkan dilarang karena efek sampingnya tersebut. Tetapi di Indonesia frekuensi pemakaian metampiron cukup tinggi meskipun sudah ada laporan mengenai terjadinya agranulositosis dan seringkali pada beberapa orang memberikan efek alergi.
– Golongan Oksikam
Piroksikam bekerja sebagai anti radang kuat dan bekerja lama, sehingga digunakan pada penyakit inflamasi sendi seperti rhematoid artritis dan osteoartritis. Efek samping berupa gangguan saluran cerna seperti perdarahan dalam lambung usus, tinitus, nyeri kepala dan eritema. Tidak dianjurkan bagi wnaita hamil, penderita ulkus peptikus dan bila sedang mengkonsumsi antikoagulan. Derivat lainnya adalah Tenoksikam.
– Meloxicam
Obat ini mempunyai sifat analgetik, antipiretik da antiinflamasi setara dengan diklofenak dan piroksikam. Efek samping terhadap lambung dan ginjal lebih kecil dibandingkan dengan obat AINS lainnya.
B. Analgetika Narkotik (Analgesik Sentral)
Golongan ini diresepkan untuk mengatasi nyeri hebat karena bekerja di SSP. Memiliki daya penghalang nyeri yang hebat seperti nyeri pada patah tulang (fractura) dan kanker. Bersifat depresan umum sehingga mengurangi kesadaran, mempunyai efek samping menimbulkan rasa nyaman (euforia). Menyebabkan ketergantungan obat (adiksi) dan kecenderungan penyalahgunaan obat, sehingga tidak dibenakan pada pemakaian jangka panjang tanpa indikasi yang kuat.
Obat Analgetika Narkotik merupakan kelompok obat yang memiliki sifat opium atau morfin, digunakan untuk pramedikasi pembedahan karena dapat memperkuat anestesi umum sehingga mengurangi timbulnya kesadaran selama anestesi seperti fentanil.
Penggolongan analgesik narkotik adalah sebagai berikut :
1. Alkaloid alam : Morfin, Codein
2. Derivat semi sintesis : Heroin
3. Derivat sintetik : Metadon, Fentanil.
Itulah tadi penjelasan lengkap mengenai analgetika yang merupakan obat penghilang rasa nyeri atau lebih dikenal dengan sebutan antiinflamasi. Semoga ulasan diatas dapat menambah wawasan anda seputar jenis obat yang termasuk golongan obat antiinflamasi. Terima kasih sudah mampir di blog inFarmasi.com semoga ulasan ini bermanfaat.