√ ANTASIDA : Sakit Maag dan 6 Penggolongan Obat Antasida

Sakit maag dan obat golongan antasida – Istilah antasida (anti = lawan, acidus = asam) adalah basa–basa lemah yang digunakan untuk menetralisir kelebihan asam lambung yang mneyebabkan tukak lambung atau sakit maag, dengan gejala maag seperti nyeri hebat yang berkala, penderita merasa sakit atau tidak nyaman di bagian perut, perut kembung, sering bersendawa, mual, muntah, merasa penuh pada bagian perut (sebah) atau merasa panas seperti terbakar pada perut bagian atas.
Sakit maag tukak lambung (gastritis)
Sakit maag tukak lambung (gastritis)
Penyakit maag berasal dari bahasa Belanda yang artinya lambung. Penyakit Tukak Lambung atau sakit maag (gastritis) adalah penyakit saluran pencernaan yang ditimbulkan oleh kelebihan asam yang diproduksi oleh lambung dan menyebabkan iritasi di selaput lendir lambung. Asam dalam kondisi normal diperlukan untuk membantu pencernaan, namum produksinya dapat lebih besar dari kebutuhan bila pola hidup tidak sehat, misalnya seperti :
a. Stress yang berlebihan
b. Makan tidak teratur atau makan terlalu cepat
c. Merokok dan banyak mengkonsumsi kopi atau alkohol
d. Mengkonsumsi makanan yang terlalu pedas dan berminyak
e. Mengkonsumsi obat-obatan seperti asetosal, obat AINS (piroksikam) serta suplemen kalium
Gangguan asam lambung dapat pula disebabkan oleh organisme renik yaitu bakteri Helicobacter pylori yang terdapat di pintuk pylorik (pintu yanag memisahkan lambung dengan usus halus). Bakteri ini mempunyai sifat luar biasa, dimana jika bakteri lain pada suasana asam dalam lambung, tetapi mampu bertahan hidup bahkan berkembang biak. Bakteri ini mengiritasi dinding lambung, sehingga menimbulkan peradangan dan luka (ulkus), sehingga penderita akan merasakan perih di bagian ulu hati.
Tujuan dari pengobatan maag menggunakan antasidaadalah menghilangkan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Sedangkan untuk swamedikasi (pengobatan sendiri) hanya bersifat menghilangkan gejala penyakit tukak lambung. Bila sudah minum obat dan gejala tersebut tidak hilang lebih dari 7 hari, penderita disarankan untuk menemui Dokter guna pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.
Obat golongan antasida digolongkan menjadi 6 golongan, yaitu :
1. Anti Hiperasiditas
Kerja antasida sebagai antihiperasiditas adalah berbasis netralisasi. Sebagai contoh, ketika asam beraksi dengan ion hidroksida, garam dan air terbentuk melalui persamaan berikut :
HCl + NaOH → NaCl + H2O
Obat dengan kandungan aluminium dan atau magnesium, bekerja secara kimiawi dengan mengikat kelebihan HCl dalam lambung, bersifat tidak larut dalam air dan dapat bekerja lama di dalam lambung sehingga tujuan pemberian antasida sebagian besar dapat tercapai.
Sediaan yang mengandung magnesium dapat menyebabkan diare (bersifat pencahar) sedangkan sediaan yang mengandung aluminium dapat menyebabkan konstipasi (sembelit), maka kedua senyawa ini dikombinasikan untuk mengurangi efek sampig masing-masing. Persenyawaan molekul antara Mg dan Al disebut Hidrotalsit (aluminium hiroksida, magnesium karbonat, magnesium trisilikat, kompleks aluminium magnesium hidrotalsit).
Obat dengan kandungan natrium bikarbonat dan kalsium karbonat adalah antasida yang paling kuat, larut dalam air, dan bekerja efeknya cepat setelah obat diminum. Tetapi bikarbonat bersifat sistein dan diserap oleh aliran darah, sehingga pemakaian secara terus menerus akan menyebabkan perubahan dalam keseimbangan asam-basa darah dan alkalosis (sindroma alkali-susu). Bila digunakan dalam dosis berlebih, CO2 yang terlepas dapat menyebabkan sendawa flatus, karena itu tidak dapat digunakan dalam jumlah besar selama lebih dari beberapa hari.
2. Perintang Reseptor H2 (Antihistamin reseptor 2)
Semua perintang reseptor H2 menyembuhkan tukak lambung dan duodenum dengan cara mengurangi sekresi asam lambung sebagai akibat antihistamin reseptor 2 menempati reseptor H2 dengan jalan persaingan, sehingga sekresi asam – lambung dan pepsin sangat dikurangi.
Contoh obat dalam golongan ini : Ranitidin, Simetidin, Famotidin, dan Nizatidin.
3. Penghambat Pompa Proton
Obat ini bekerja pada pompa proton yaitu menghambat tempat keluarnya proton (ion H+) yang akan membentuk asam lambung.
Contoh obat termasuk golongan ini : Omeprazol, Lansoprazol, dan Pantoprazol.
4. Inhibitor Pepsin/ pemberi lapisan pelindung pada mukosa lambung
Obat ini memberikan lapisan pelindung pada luka di dinding lambung. Obat ini tidak diserap dan bergabung dengan protein untuk membentuk substansi kental yang melindunginya dari asam dan pepsin. Karena tidak diserap maka efek sampingnya sedikit tetapi dapat menimbulkan sembelit. Contoh Sukralfat yaitu kompleks sukrosa sulfat dan aluminium hidroksida. Dosis sukralfat 1 gram diminum 4 kali sehari sebelum makan.
5. Analog Prostaglandin
Obat baru  ini bekerja mencegah dan mengobati tukak duodenum yang bekerja menekan sekresi asam lambung dan meningkatkan mukul sitoproprotektif.
Contoh obat dalam golongan ini : Misoprostol.
6. Kombinasi Obat Antasida
Pengobatan dengan obat-obatan antasida bertujuan untuk mengurangi rasa sakit, membuat penderita lebih tenang sehingga dapat beristirahat dan agar penderita tidak kembung. Untuk itu pengobatan antasida dikombinasikan dengan beberapa obat lainnya yaitu seperti :
a. Anti Kolinergik, yaitu zat yang dapat menekan produksi getah lambung dan melawan kejang-kejang, contoh obatnya : Ekstrak Belladonae
b. Sedativ / obat penenang, yaitu zat yang dapat menekan stress karena dapat memicu sekresi asam lambung, contohnya : Klordiazepoksida dan Luminal
c. Spasmolitik, yaitu zat yang dapat melemaskan ketegangan otot lambung – usus dan mengurangi kejang-kejang ,contohnya seperti Papaverin HCl
d. Memperkecil gelembung gas sehingga mudah diserap, dengan demikian dapat dicegah masuk angin, kembung, sering buang angin (flatulensi) dan sendawa. Contoh obatnya : Dimetilpolisiloksan (Dimeticone, Simeticone)
e. Membunuh bakteri penyebab gastritis seperti Helicobacter pylori, menggunakan golongan antibiotika, seperti : Klaritromisin, Amoksisilin dan Metronidazol.
Aturan dalam Mengkonsumsi Obat Antasida
Yang perlu diperhaikan dalam mengkonsumsi antasida adalah beberapa hal seperti berikut, yaitu :
– Penggunaan tablet antasida yang paling baik adalah dikunyah, bila berbentuk suspensi maka sebaiknya dikocok dahulu untuk membuat campurannya homogen.
– Antasida sebaiknya diminum setengah jam sebelum makan untuk mempercepat kerja obat. Tetapi untuk mendapatkan efek lama, antasida dapat diminum 1 jam sesudah makan karena akan bertahan di lambung lebih lama dan mentap selama 3 jam.
– Antasida dapat berinteraksi dengan logam lain atau yang terkandung dalam makanan dan minuman seperti susu dan obat tertentu seperti INH, penisilin , tetrasiklin dan vitamin B12. Oleh karena itu bila dikonsumsi dengan makanan atau obat lain,s ebaiknya berselang 1 sampai 2 jam.
– Hindari faktor pencetus terbentuknya asam lambung berlebih seperti kopi, minuman bersoda, dan beralkohol serta stress dan makan tidak teratur.
Bagaimana penjelasan tentang sakit maag dan penggolongan obat antasida diatas? Mungkin masih banyak kekurangan ulasan diatas misal mengenai gejala sakit maag, penyebab sakit maag dan pantangan orang sakit maag. Namun apabila ada pertanyaan seputar ulasan tentang penyakit asam lambung dan obat golongan antasida diatas silahkan tinggalkan di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih sudah mampir di blog inFarmasi.com semoga dapat menambah wawasan anda tentang dunia farmasi.