√ ANTIHISTAMIN : Penggolongan Antihistamin dan 25 Contoh Obat Alergi di Apotik

Penggolongan antihistamin dan contoh obat alergiObat antihistamin di apotiktermasuk obat paling laris setelah obat diare dan obat batuk pilek. Mungkin bagi orang yang awam tentang obat, kata antihistamin masih terdengar asing. Obat antihistamin sering disebut juga dengan obat alergi di apotik. Banyaknya jenis obat golongan antihistamin membuat bingung untuk memilih obat antihistamin yang paling baik, Namun sebaiknya perlu anda ketahui tentang apa itu histamin dan apa saja faktor penyebab alergi sehingga dapat meminimalkan terjadinya reaksi alergi atau lepasnya histamin dalam tubuh.
obat antihistamin obat alergi
antihistamin dan contoh obat alergi
Histamin adalah suatu senyawa amina yang di dalam tubuh dibentuk dari asam amino histidin oleh pengaruh enzim histidin dekarboksilase. Hampir semua organ dan jaringan tubuh mengandung histamin. Histamin disimpan dalam keadaan terikat dan inaktif terutama dalam sel tertentu yang disebut mastcell atau sel mast. Histamin juga terdapat dalam jumlah besar di sel epidermis, mukosa usus dan paru-paru. Dalam keadaan normal jumlah histamin dalam darah rendah, hanya kira-kira 50 mcg/L, sehingga tidak menimbulkan efek terhadap tubuh. Bila sel mast rusak oleh sebab-sebab tertentu, histamin akan terlepas cukup banyak sehingga menimbulkan efek yang nyata. Kelebihan histamin dalam darah diuraikan oleh enzim histaminase yang juga ada dalam jaringan.

Beberapa faktor penyebab histamin lepas dari ikatannya dan menjadi aktif antara lain :
a. Reaksi alergi (penggabungan antigen-antibodi) menyebabkan kulit melepaskan histamin sehingga terjadi fase dilatasi, gatal dan udema.
b. Kecelakaan dengan cedera serius memicu lepasnya histamin dari jaringan-jaringan mati
c. Paparan sinar UV dari matahari merusak sel mast sehingga melepaskan histamin
d. Adanya zat-zat kimia dengan daya membebaskan histamin seperti racun ular, tawon, enzim proteolitik, obat-obat tertentu (morfin, kodein, tubokurarin, dan klordiazepoksid).
Efek histamin bila histamin aktif dalam jumlah berlebih dalam tubuh dapat menimbulkan efek antara lain :
– Kontraksi otot polos bronki, usus dan uterus.
– Vasodilatasi semua pembuluh darah dengan akibat hipotensi
– Memperbesar permeabilitas kapiler, dengan akibat udema dan pengembangan mukosa
– Memperkuat sekresi kelenjar ingus, ludah, air mata dan asam lambung
– Stimulasi ujung saraf dengan akibat eritema dan gatal-gatal.
Dalam pengobatan untuk mengatasi efek histamin yang terdapat di jaringan paru, sel lendir usus, hati dan terutama di dalam plasenta digunakan obat antihistaminika. Antihistaminika atau antagonis histamin adalah zat yang mampu mencegah pelepasan atau kerja histamin yang berlebihan di dalam tubuh. Atas dasar jenis reseptor histamin, dibedakan 2 macam antihistaminika, yaitu :
Jenis Reseptor Histamin
A. H1-bloker atau antagonis reseptor histamin 1 (antihistamin klasik)
Antihistamin ini bekerja secara antagonis kompetitif yang reversibel pada reseptor H1 di otot licin dinding pembuluh, bronki, slauran cerna, kandung kemih dan rahim, juga melawan efek histamin di kapiler dan ujung saraf (gatal) ,sehingga dapat menghambat kerja histamin pada reseptor tersebut, tetapi tidak memblokir pelepasan histamin. Selain menekan reseptor H1 juga dapat merangsang maupun menghambat SSP. Efek perangsangan adalah insomnia, gelisah dan eksitasi. Sedangkan efek penghambatan adalah mengantuk, mual, muntah dan mabuk perjalanan. Anthistaminika banyak digunakan secara sistemis untuk mengatasi bermacam-macam gangguan, antara lain reaksi alergi terhadap serbuk sari bunga (hay fever), sengatan serangga seperti lebah, urtikaria, kurang nafsu makan, mabuk perjalanan, sedatif hipnotik pada penderita parkonsin dan syok anafilasis.
Contoh obat golongan ini : Difenhidramin, Loratadin, Desloratadin, Meklizin, dan Prometazina.
B. H2-bloker atau antagonis reseptor histamin 2 (penghambat asam lambung)
Antihistamin ini bekerja mengurangi vasodilatasi, menurunkan tekanan darah akibat histamin dan menghambat secara selektif sekresi asam lambung yang meningkat, sehingga dimanfaatkan untuk peptik ulcer dan penyakit refluks gastroesofagus.
Contoh obat golongan ini : Simetidin, Ranitidin, Famotidin, Nizatidin dan Roksatidin.
Antihistaminika dibagi menjadi 2 kelompok menurut struktur kimianya, yaitu :
1. Generasi 1, terdiri dari,
a. Golongan Etanolamin, meliputi Difenhidramin, Klemastin, Karbinoksamin, Doksilamin, dan Dimenhidrinat. Kelompok ini memiliki daya kerja seperti Atropin (antikolinergik) dan bekerja terhadap SSP (sedatif) agak kuat.
b. Golongan Etilendiamin, meliputi Pirilamin, Tripelenamin, Antazolin, dan Mepiramin. Kelompok ini umumnya memiliki daya sedatif lemah.
c. Golongan Alkilamin, meliputi Feniramin, Klorfeniramin, dan Bromfeniramin. Kelompok ini memiliki daya antihistaminika kuat.
d. Golongan Piperazin, meliputi Siklizin, Meklizin, Cetirizin dan Hidroksizin. Umumnya bersifat long acting (lebih dari 10 jam).
e. Golongan Fenotiazin, meliputi Prometazin, Mekuitazin, dan Trimeprazin. Efek antihistamin dan antikolinergiknya tidak begitu kuat, berdaya neuroleptik kuat sehingga digunakan pada keadaan psikosis, karena mempunyai efek sedatif dan meredakan batuk, sehingga seringkali digunakan dalam obat batuk.
2. Generasi 2, terdiri dari,
a. Golongan Alkilamin, meliputi Akrivastin
b. Golongan Piperazin, meliputi Cetirizin
c. Golongan Piperidin, meliputi Astemizol, Levokabastin, Loratadin, Terfenadin, dan Fleksofenadin.
d. Golongan lain-lain, meliputi Siproheptadin, Ketotifen, Loratadin, Azelastin, dan Pizotifen.
Penggunaan Antihistamin
Penggunaan antihistaminika ini antara lain untuk :
– Reaksi alergi, mencegah alergi akut, urtikaria, dermatitis dan konjungtivitis.
– Antiemetik, mengatasi mual dan muntah, contoh golongan etanolamin (doksilamin). Untuk mabuk perjalanan, contohnya Skopolamin, Piperazin (Siklizin dan Meklizin), Prometazin, Sinarizin, dan Difenhidramin (terutama penderita Parkinson).
– Anestetik lokal.
Informasi obat antihistamin dengan resep Dokter
1. Difenhidramin, disamping khasiat antihistaminnya yang kuat, juga bersifat sedatif, antikolinergik, spasmodik, antiemetik dan antivertigo. Banyak digunakan dalam obat batuk, obat mabuk perjalanan, obat gatal karena alergi dan obat tambahan pada penyakit parkinson. Efek samping obat ini adalah mengantuk.
2. Dimenhidrinat/ Difenhidramin teoklas, digunakan pada mabuk perjalanan dan muntah-muntah karena kehamilan.
3. Antazolin, sifatnya tidak merangsang selaput lendir, karena itu sering digunakan untuk mengobati gejala alergi pada mata dan hidung.
4. Klorfeniramin, daya antihistaminnya lebih kuat dari feniramin, dan mempunyai efek sedatif ringan. Digunakan untuk alergi seperti rhinitis alergi, urtikaria, asma bronkial, dermatitis atopik, eksim alergi, gatal-gatal di kulit, dan udema angioneurotik.
5. Feniramin, berdaya antihistamin kuat dan efek meredakan batuk yang cukup baik, sehingga digunakan pula dalam obat batuk.
6. Setirizina HCl, digunakan untuk perineal rhinitis, rhinitis alergi, urtikaria idiopatik.
7. Prometazin, selain diguankan dalam obat batuk, juga digunakan sebagai antiemetika untuk mencegah mual dan mabuk perjalanan, sindroma parkinson,s edatif dan hipnotik.
8. Siproheptadin, merupakan satu-satunya antihistamin yang mempunyai efek tambahan nafsu makan, sehingga sering digunakan sebagai stimulan apetite. Kerja ikutannya antara lain timbul rasa mengantuk, pusing, mual dan mulut kering.
9. Loratadin, digunakan pada rhinitis alergi, urtikaria kronik, dermatitis alergi, rasa gatal pada hidung dan mata, rasa terbakar pada mata.
10. Mebhidrolini Napadisilat, praktis tidak bersifat menidurkan, diguanakan pada gatal-gatal karena alergi.
11. Difenhidramin HCl : Benadryl
12. Dimenhidrinat : Antimo
13. Dimenhidrinat + vit. B6 : Dramamin, Dramasin
14. Antazolin HCl : Antrifine
15. Klorfeniramin Maleat : Cohistan, Chlorphenon
16. Deksklorfeniramin Maleat : Mitramin, Polaramine
17. Feniramin Hidrogen Maleat : Avil
18. Cetirizine : Incidal OD, Ryzen, Risina
19. Homoklorsiklizin HCl : Honceradish garlic
20. Prometazin HCl : Hazine, Phenergan, Prome Ekspektoran
21. Siproheptadina HCl : Alphahist, Heptasan, Pronicy, Lexahist
22. Loratadina : Alloris, Claritin
23. Terfenadin : Pylitep, Terfin
24. Astemizol : Comaz, Sinez
25. Mebhidrolin Napadisilat : Biolergi, Histapan, Interhistin, Incitin.
Demikian ulasan lengkap tentang obat antihistamin dan penggolongan obat antihistamin serta contoh obat antihistamin di apotikyang bisa admin sampaikan. Semoga informasi tentang obat antihistamin dan penggolongan obat antihistamin diatas dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang berbagai nama obat antihistamin di apotik.