√ 11 Gejala Klinis DIABETES dan 16 Obat ANTIDIABETES ORAL di Apotik

Obat diabetes melitus oral di apotik – Banyaknya jenis obat pada terapi pengobatan diabetes melitus membuat pasien penderita DM merasa kebingungan dalam menentukan obat mana yang tepat sebagai obat antidiabetes pilihan utama. Kesalahan pemilihan obat diabetes yang benarinilah yang menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya kesalahan pengobatan (medication error). Pada penyakit diabetes melitus obat yang digunakan memiliki banyak jenis sediaan obat, misal seperti sediaan obat antidiabetes oral dan sediaan obat antidiabetes injeksi. Perbedaan sediaan injeksi dengan sediaan oral yaitu kalau sediaan oral maka obat yang dimasukkan ke dalam tubuh dimasukkan melalui mulut sedangkan injeksi melalui suntikan ke bagian tubuh biasanya kalau pada penderita diabetes adalah pada bagian perut. Nah pada kesempatan kali ini akan admin inFarmasi ulas tentang obat antidiabetes oral, namun sebelumnya silahkan simak penjelasan tentang tipe DM, gejala klinis DM dan golongan obat DM.
Dalam pankreas terdapat sekelompok sel yang dinamakan pulau-pulau Langerhans yang terdiri dari sel-sel alfa dan sel-sel beta. Sel alfa menghasilkan hormon glukagon dan sel beta menghasilkan hormon insulin. Kedua hormon tersebut berfungsi mengatur metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat. Glukagon dan insulin bekerjasama dalam mengatur kadar gula darah. Insulin mengatur penggunaan glukosa oleh tubuh sebagai sumber energi dan mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen dan lemak sehingga menjaga konsentrasi glukosa dalam darah tidak terlalu tinggi. Sedangkan glukagon mengubah glikogen yang ditimbun dalam hati menjadi glukosa.

Gangguan keseimbangan kedua hormon di atas akan menimbulkan penyakit Diabetes Melitus (DM). Ada 4 macam diabetes melitus, yaitu :
A. Diabetes Melitus Tipe 1
DM yang tergantung insulin (defisiensi insulin absolute). Terjadi kerusakan sel-sel alfa pankreas sehingga pankreas tidak dapat mensekresikan insulin dalam jumlah yang cukup sehingga perlu pemberian insulin eksternal.
B. Diabetes Melitus Tipe 2
DM yang tidak tergantung insulin. Sekresi insulin pankreas kurang atau cukup tetapi jaringan sudah mengalami resistensi terhadap insulin. Penyebab tipe ini adalah pola makan dan gaya hidup konsumtif, keturuna dan obesitas. Cara penanganan perlu dilakukan diet karbohidrat dan olah raga yang teratur.
C. Diabetes Melitus Tipe lain
DM yang disebabkan penyakit eksokrin pankreas, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindromagenetik lain yang berkaitan dengan DM (Sindrom Down, Sindrom Klinefelter, Porfiria dan lain lain).
D. Diabetes Melitus Gestasional
DM yang mulai timbul atau diketahui selama masa kehamilan.
Gejala Klinis Penderita Diabetes Melitus
Gejala Klinis seseorang yang menderita Diabetes Melitus antara lain sebagai berikut :
1. Banyak makan (Polifagia)
2. Sering merasa haus (Polidipsia)
3. Sering buang air kecil (Poliuria) terutama di malam hari
4. Lemas
5. Berat badan menurun
6. Kesemutan pada jari tangan dan kaki
7. Gatal-gatal
8. Pengelihatan kabur
9. Impotensi (bila pada pria)
10. Pruritus vulva (pada wanita)
11. Luka sukar sembuh dan kering
Pengobatan DM dimulai dengan terapi non farmakologi dengan cara terapi gizi medis dan latihan jasmani (olahraga) selama beberapa waktu (2 – 4 minggu). Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan terapi farmakologi dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin. Pada keadaan tertentu, OHO dapat diberikan secara tunggal atau langsung dikombinasi sesuai indikasi. Insulin tidak dapat diberikan peroral karena dapat terurai oleh asam lambung.
A. Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan tertentu, misalnya seperti :
– Penurunan berat badan yang cepat
– Hiperglikemi berat yang disertai ketosis
– Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
– Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, stroke)
– DM gestasional yang tidak terkendali dengan terapi gizi medik
– Gangguan fungsi ginjal dan hati yang berat
– Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Jenis insulin dan lama kerja insulin:
1. Insulin kerja cepat (Rapid Acting Insulin) : diberikan 15 -30 menit sebelum makan
2. Insulin kerja pendek (Short Acting Insulin) : diberikan sesaat sebelum makan
3. Insulin kerja menengah (Intermediate Acting Insulin) : diberikan 1 – 2 kali sehari, 15 – 30 menit sebelum makan.
4. Insulin kerja panjang (Long Acting Insulin) : merupakan campuran insulin dan protamin, diabsorpsi dengan lambat dari tempat penyuntikan sehingga efek yang dirasakan cukup lama yaitu 24 – 36 jam.
Efek samping kerja insulin :
Efek samping utama adalah terjadinya hipoglikemia
Efek samping yang lain berupa reaksi imun terhadap insulin yang dapat menimbulkan alergi insulin atau resistensi insulin.
B. Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan, yaitu :
1. Turunan Sulfonilurea dan analog sulfonamida
Golongan obat ii hanya berkhasiat jika tubuh masih bisa memproduksi insulin meskipun jumlahnya sedikit dan hanya diindikasikan untuk penderita diabetes tipe II yang tidak membutuhkan insulin. Sulfonilurea menstimulir sel beta Langerhaans untuk meningkatkan sekresi insulin.
Efek samping golongan ini adalah berkurangnya sel darah putih (Leukopenia), hilang selera malan, mual, trombositopenia dan alergi terutama Klorpropamida. Turunan obat ini tidak boleh diberikan pada diabetes tipe I dan wanita hamil
Contoh obatnya : Tolbutamid, Klorpropamid, Glibenklamid, Glipizid, dan Glikuidon.
2. Turunan Biguanida
Golongan ini dapat menimbulkan laktasidosis yang dapat menyebabkan kematian terutama pada pasien gangguan ginjal, oleh karena itu hanya Metformin saja yang masih dipakai dalam medis hingga saat ini. Metformin digunakan pada penderita diabetes dewasa yang tidak tertolng dengan diet dan alergi terhadap golongan sulfonilurea.
3. Penghambat glukosidase alfa
Senyawa ini bekerja di saluran cerna, berkhasiat menghambat enzim glukosidase (Maltase, Sukrose dan Glukoamilase) sehingga absorpsi glukosa dihambat. Efek samping yang sering dikeluhkan jika mengkonsumsi obat golongan ini adalah terbentuknya banyak gas di usus (kentut) dan kejang usus. Efek – efek ini diakibatkan penumpukan hidrat arang yang tidak dicerna dalam kolon, dan peningkatan penguraiannya oleh flora usus sehinga terjadi banyak gas.
Contoh obat golongan ini : Akarbose dan Diastabol.
4. Tiazolidindion
Senyawa ini bekerja pada sel dengan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin. Efek samping utama golongan ini adalah meningkatnya berat badan akibat retensi air, yang diperkuat oleh kombinasi dengan insulin atau NSAID.
Contoh obat golongan ini : Pioglitazon.
Informasi obat anti diabetes generik nama dan paten di apotik :
a. Glibenklamid :
1. Daonil
2. Prodiabet
b. Glikazid :
3. Diamicron MR 60
4. Glucodex
5. Pedab
c. Glikuidon :
6. Glurenorm
d. Glipizid :
7. Glyzid
8. Minidiab
e. Glimepirid :
9. Amaryl
f. Klorpropamida :
10. Diabenese
g. Repaglinid :
11. Novonorem
h. Human Insulin :
12. Humulin
i. Pioglitazon :
13. Actos
14. Deculm
15. Pionix M
j. Acarbose :
16. Glucobay
Itulah tadi penjelasan diatas tentang tipe – tipe  penyakit diabetes melitus, gejala klinis penyakit diabetes melitusdan contoh obat DM Oral di apotikyang sudah admin inFarmasi ulas pada kesempatan kali ini. Semoga penjelasan pada kesempatan kali ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang dunia obat-obatan dan farmasi. Jangan lupa share dan apabila ada pertanyaan silahkan tinggalkan di kolom komentar di bawah ini.